15. Memahami Sastra Melayu Klasik (Hikayat)

Hikayat adalah cerita panjang yang bahannya diambil dari kehidupan istana yang dihubungkan dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Isi hikayat biasanya merupakan perpaduan dari berbagai keanehan dan keajaiban yang dihubungkan satu dengan yang lain sehingga biasanya merupakan cerita yang panjang. Lingkungan raja-raja beserta hulubalang yang gagah berani tiada lepas dari pandangan mata seorang pengarang hikayat. Di dalam hikayat diceritakan semua yang indah-indah, putri-putri yang cantik, kesaktian para pahlawan, dan sebagainya. Pendeknya, lingkungan kehidupan istana beserta hulubalang menjadi bahan pokok hikayat.

Berikut adalah penggalan hikayat yang berjudul Alkissah Tjetera yang Kedua.

Alkissah Tjetera yang Kedua

Kata sahibu’l-hikayat: ada sebuah negeri di tanah Andelas Perlembang namanya, Demang Lébar Daun nama rajanya, asalnya
daripada anak cucu raja Sulan; Muara Tatang nama sungainya. Adapun negeri Perlembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka hulu Muara Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit Siguntang Mahaméru namanya. Dan ada dua orang perempuan berladang, Wan Empuk seorang namanya, dan Wan Malini seorang namanya; dan keduanya itu berhuma di bukit Siguntang itu, terlalu luas humanya itu, syah dan terlalu jadi padinya, tiada dapat terkatakan; telah hampirlah masak padi itu. Maka pada suatu malam itu maka dilihat oleh Wan Empuk dan Wan Malini dari rumahnya, di atas bukit Siguntang itu bernyala-nyala seperti api. Maka kata Wan Empuk dan Wan Malini, “Cahaya apa gerangan bernyala-nyala itu? Takut pula beta melihat dia.” Maka kata Wan Malini, “Jangan kita ingar-ingar, kalau gemala naga besar gerangan itu.” Maka Wan Empuk dan Wan Malini pun diamlah dengan takutnya, lalu keduanya tidur. Telah hari siang, maka Wan Empuk dan Wan Malini pun bangun keduanya daripada tidur, lalu basuh muka. Maka kata Wan Malini, “Marilah kita lihat yang bernyala-nyala semalam itu.” Maka keduanya naik ke atas bukit Siguntang itu, maka dilihatnya padinya berbuahkan emas dan berdaunkan perak dan batangnya tembaga suasa. Maka Wan Empuk dan Wan Malini pun heran melihat hal yang demikian itu, maka katanya, “Inilah yang kita lihat semalam itu”. Maka ia berjalan pula ke bukit Siguntang itu, maka dilihatnya tanah negara bukit itu menjadi seperti warna emas.

 

Setelah Anda membaca hikayat di atas, dapatkah Anda mengidentifikasi ciri-ciri hikayat?  Perhatikan tema cerita dan bahasa yang digunakan dalam hikayat tersebut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: